Upaya Pemulihan Psikologis Pascabencana
Kepolisian Republik Indonesia melalui jajaran Polda Sumatera Barat menggelar kegiatan trauma healing bagi masyarakat terdampak banjir di wilayah Kayu Pasak. Kegiatan yang dilaksanakan pada awal Januari 2026 tersebut difokuskan pada pemulihan kondisi psikologis warga, khususnya anak-anak, yang terdampak bencana alam.
Trauma healing ini melibatkan personel Resimen II Pasukan Pelopor bersama satuan Brigade Mobil (Brimob). Pendekatan yang digunakan bersifat humanis dengan mengedepankan interaksi langsung, permainan, dan kegiatan edukatif untuk membantu mengurangi trauma serta mengembalikan rasa aman pada anak-anak.
Anak-anak Jadi Prioritas Pemulihan
Dalam situasi pascabencana, anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan mengalami dampak psikologis. Ketakutan, kecemasan, hingga gangguan tidur sering kali muncul setelah mereka mengalami peristiwa ekstrem seperti banjir.
Melalui kegiatan trauma healing di Kayu Pasak, Polri memprioritaskan anak-anak sebagai fokus utama. Sejumlah aktivitas dirancang khusus agar sesuai dengan usia dan kondisi emosional mereka. Pendekatan ini diharapkan mampu membantu anak-anak kembali merasakan suasana normal dan aman setelah peristiwa bencana.
Permainan Edukatif untuk Bangkitkan Keceriaan
Dalam kegiatan tersebut, anak-anak diajak mengikuti berbagai permainan edukatif dan rekreatif. Permainan seperti Flame Fox dan Slack Line menjadi bagian dari rangkaian aktivitas yang disiapkan oleh personel Brimob.
Permainan Flame Fox dirancang untuk melatih kerja sama dan keberanian anak-anak, sementara Slack Line membantu meningkatkan kepercayaan diri serta keseimbangan fisik. Aktivitas-aktivitas ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana terapi yang membantu anak-anak menyalurkan emosi secara positif.
Gelak tawa dan antusiasme anak-anak terlihat selama kegiatan berlangsung, menandakan proses pemulihan psikologis mulai berjalan. Suasana ceria tersebut menjadi indikator awal bahwa trauma yang mereka alami perlahan dapat dikelola dengan baik.
Pendekatan Humanis Polri
Kegiatan trauma healing ini merupakan bagian dari pendekatan humanis Polri dalam penanganan pascabencana. Selain menjalankan fungsi keamanan dan penegakan hukum, Polri juga berperan aktif dalam misi kemanusiaan dan pemulihan sosial.
Pendekatan humanis ini diwujudkan melalui interaksi langsung dengan masyarakat, terutama anak-anak. Personel Brimob tidak hanya hadir sebagai aparat, tetapi juga sebagai pendamping dan penghibur yang memberikan rasa aman di tengah situasi sulit.
Melalui kegiatan ini, Polri ingin memastikan bahwa kehadirannya dirasakan secara nyata oleh masyarakat, bukan hanya dalam konteks penanganan darurat fisik, tetapi juga pemulihan mental dan emosional.
Memulihkan Rasa Aman Masyarakat
Selain anak-anak, kegiatan trauma healing juga menyasar masyarakat dewasa yang terdampak banjir. Melalui interaksi informal dan komunikasi yang hangat, personel Polri berupaya membantu warga memulihkan rasa aman dan kepercayaan diri mereka.
Bagi masyarakat yang kehilangan harta benda atau mengalami kerusakan rumah, dukungan psikologis menjadi sangat penting. Kehadiran aparat yang peduli dan responsif diharapkan mampu memberikan ketenangan serta mendorong semangat untuk bangkit kembali.
Sinergi dalam Penanganan Pascabencana
Pelaksanaan trauma healing di Kayu Pasak juga mencerminkan sinergi antara Polri dan masyarakat dalam penanganan pascabencana. Warga setempat menyambut baik kegiatan tersebut karena dinilai membantu anak-anak mereka menghadapi dampak psikologis banjir.
Sinergi ini menjadi kunci dalam mempercepat proses pemulihan secara menyeluruh. Tidak hanya infrastruktur yang perlu diperbaiki, tetapi juga kondisi mental dan sosial masyarakat harus mendapatkan perhatian yang sama.
Pentingnya Pemulihan Psikologis Jangka Panjang
Pemulihan pascabencana tidak berhenti pada fase tanggap darurat. Dampak psikologis, terutama pada anak-anak, bisa berlangsung dalam jangka panjang jika tidak ditangani dengan baik.
Melalui trauma healing, Polri berupaya mencegah munculnya gangguan psikologis berkepanjangan seperti kecemasan berlebih atau trauma mendalam. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal yang dapat dilanjutkan dengan pendampingan berkelanjutan oleh berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan lembaga sosial.
Harapan ke Depan
Kegiatan trauma healing yang digelar Polda Sumatera Barat di Kayu Pasak diharapkan dapat menjadi contoh penanganan pascabencana yang komprehensif. Pendekatan yang menggabungkan aspek fisik, sosial, dan psikologis dinilai penting untuk memastikan pemulihan masyarakat berjalan optimal.
Polri berharap, melalui kegiatan seperti ini, anak-anak korban banjir dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan perasaan aman dan ceria. Selain itu, hubungan antara aparat kepolisian dan masyarakat diharapkan semakin erat, terbangun atas dasar kepercayaan dan kepedulian.
Dengan dukungan berbagai pihak, proses pemulihan pascabencana di Kayu Pasak diharapkan dapat berjalan lebih cepat, sehingga masyarakat dapat kembali menata kehidupan mereka dengan optimisme dan semangat baru.
Baca Juga : Prabowo Beri Taklimat Kabinet di Hambalang Awal 2026
Cek Juga Artikel Dari Platform : rumahjurnal

