Rencana Pertemuan di Gedung Putih
Presiden Gustavo Petro dari Kolombia dijadwalkan bertolak ke Gedung Putih untuk bertemu dengan Presiden Donald Trump dalam kunjungan diplomatik yang diperkirakan berlangsung pada pekan pertama Februari 2026. Pertemuan ini menjadi momen penting dalam hubungan bilateral antara kedua negara di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Amerika Latin dan kekhawatiran global terkait risiko konflik yang lebih luas.
Trump sebelumnya menyatakan bahwa ia menantikan pertemuan tersebut setelah percakapan telepon pertama antara kedua pemimpin yang dimaksudkan untuk meredakan ketegangan yang sempat tajam beberapa waktu lalu.
Tujuan Diplomatik: Mencegah Konflik Global
Dalam wawancara dengan media internasional, Petro menegaskan bahwa ia berharap pertemuan dengan Trump dapat membantu mencegah eskalasi konflik berskala global, termasuk apa yang ia sebut sebagai kemungkinan “perang dunia.” Ia menyatakan bahwa dialog terbuka di antara negara-negara besar merupakan kunci untuk meredakan ketegangan di kawasan dan memastikan stabilitas internasional.
Isu yang menjadi fokus adalah hubungan AS–Kolombia yang belakangan mengalami pasang surut, terutama setelah serangan militer besar oleh AS terhadap Venezuela pada awal Januari 2026. Petro khawatir tindakan serupa bisa terjadi terhadap negara-negara lain di kawasan, termasuk Kolombia, dan memperluas konflik ke wilayah yang lebih luas.
Latar Belakang Ketegangan
Hubungan antara Petro dan Trump sempat memburuk tajam pada awal Januari, setelah Trump melancarkan operasi militer ke Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya oleh pasukan AS. Kasus tersebut menarik kecaman dari berbagai negara di kawasan dan memicu kekhawatiran tentang arah kebijakan luar negeri AS di Amerika Latin.
Petro juga pernah mengungkapkan dalam sebuah wawancara bahwa Trump sempat menyampaikan melalui panggilan pribadi bahwa kemungkinan operasi militer besar terhadap Kolombia tengah dipertimbangkan. Menurut Petro, kekhawatiran itu pernah muncul tetapi kemudian “dibekukan.”
Isu Intervensi dan Hukum Internasional
Petro mengkritik praktik penggunaan kekuatan militer oleh Amerika Serikat untuk mencampuri urusan dalam negeri negara lain. Ia menyoroti adanya benturan antara hukum domestik AS—yang memungkinkan operasi militer di luar negeri dengan alasan tertentu—dengan hukum internasional yang membatasi tindakan semacam itu tanpa persetujuan lembaga internasional.
Kritik Petro ini juga mencerminkan kekhawatirannya bahwa operasi semacam di Venezuela dapat menimbulkan perang saudara di negara lain jika dilakukan tanpa dukungan diplomatik atau legitimasi luas.
Upaya Meredakan Ketegangan
Panggilan telepon antara Trump dan Petro yang berlangsung selama lebih dari satu jam dipandang sebagai langkah awal untuk meredakan hubungan yang sempat tegang. Pertemuan yang direncanakan di Gedung Putih menjadi lanjutan dari upaya dialog tersebut, walaupun masih banyak isu mendasar yang harus dibahas secara langsung, termasuk soal keamanan regional, narkotika, ekonomi, serta kebijakan luar negeri.
Dalam pernyataannya, Trump memberi kesan positif setelah percakapan telepon tersebut dan menyebutnya sebagai kehormatan berbicara dengan Petro, meskipun tidak mengungkapkan rincian isi dialog secara mendalam.
Dinamik Lain: Narkotika dan Sanksi
Sebelumnya, hubungan kedua negara sempat tegang ketika Trump sempat melontarkan kritik keras terhadap Petro terkait narkotika. Tuduhan tersebut termasuk tuduhan keterlibatan Petro dalam perdagangan narkoba—klaim yang dibantah secara tegas oleh presiden Kolombia.
Isu narkotika ini merupakan salah satu dari sejumlah perbedaan yang memicu ketegangan diplomatik, bersama dengan operasi militer di Venezuela dan perbedaan pandangan tentang peran AS di Amerika Latin.
Reaksi dan Kekhawatiran Regional
Situasi ini juga memicu perhatian luas di kawasan Amerika Latin. Beberapa negara dan tokoh regional mengekspresikan kekhawatiran bahwa tindakan agresif semacam itu dapat memperuncing hubungan antarnegara dan bahkan memberikan dampak pada kestabilan regional.
Petro sendiri telah menyerukan dialog dan kerja sama regional dalam menghadapi tantangan tersebut, meskipun perbedaan kebijakan luar negeri antara Kolombia dan AS masih menjadi hambatan yang harus diatasi.
Peluang Diplomasi di Tengah Ketegangan
Pertemuan di Gedung Putih nanti berpotensi menjadi kesempatan penting untuk membuka kembali jalur diplomasi yang lebih solid antara Kolombia dan Amerika Serikat. Meskipun hubungan kedua negara sempat memburuk, dialog langsung antara pemimpin kedua negara menunjukkan bahwa diplomasi tetap menjadi alat utama untuk menyelesaikan perbedaan.
Beberapa pengamat internasional melihat kesempatan pertemuan ini sebagai momen strategis untuk menurunkan suhu politik dan mencari titik temu dalam hal kebijakan luar negeri, keamanan, dan isu global lain seperti migrasi dan perubahan iklim.
Penutup
Pertemuan yang direncanakan antara Presiden Gustavo Petro dan Presiden Donald Trump di Gedung Putih mencerminkan dinamika hubungan internasional yang kompleks di era geopolitik saat ini. Dari ancaman militer dan tuduhan narkotika, hingga upaya dialog untuk mencegah eskalasi konflik yang lebih luas, kunjungan Petro menjadi salah satu momen kunci dalam diplomasi Amerika Latin–AS tahun 2026.
Hasil dari pertemuan ini berpotensi memberikan arah baru bagi hubungan bilateral dan stabilitas regional, sekaligus menjadi indikator seberapa jauh diplomasi mampu meredakan ketegangan yang telah muncul.
Baca Juga : Ibu dan Balita di Kebumen Tewas, Diduga Akibat Depresi
Cek Juga Artikel Dari Platform : jelajahhijau

