Pemerintah daerah terus memperkuat langkah penanganan bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Bener Meriah. Bencana yang dipicu oleh curah hujan tinggi ini menimbulkan dampak luas, tidak hanya pada permukiman warga, tetapi juga terhadap infrastruktur vital, fasilitas umum, serta sektor pertanian yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah.
Berdasarkan laporan pantauan penanggulangan bencana hingga Rabu malam, wilayah terdampak mencakup 10 kecamatan dan 232 desa. Skala dampak yang begitu besar menjadikan penanganan bencana ini sebagai salah satu fokus utama Pemerintah Kabupaten Bener Meriah bersama seluruh pemangku kepentingan terkait.
Dampak Luas terhadap Penduduk
Data sementara menunjukkan jumlah penduduk terdampak mencapai 183.043 jiwa. Dari jumlah tersebut, tercatat 30 orang meninggal dunia, 14 orang dinyatakan hilang, dan 12 orang mengalami luka-luka akibat bencana. Angka ini mencerminkan betapa seriusnya dampak bencana hidrometeorologi yang terjadi.
Selain korban jiwa, ribuan warga terpaksa meninggalkan rumah mereka demi keselamatan. Sebanyak 5.425 jiwa kini mengungsi di 39 titik pengungsian yang tersebar di berbagai kecamatan. Pemerintah daerah memastikan kebutuhan dasar para pengungsi, seperti makanan, layanan kesehatan, dan perlindungan, tetap menjadi prioritas utama selama masa tanggap darurat.
Wilayah Terisolir dan Tantangan Akses
Bencana ini juga menyebabkan sejumlah wilayah terisolir akibat terputusnya akses jalan dan rusaknya jembatan. Tercatat enam kecamatan dan 57 desa berada dalam kondisi terisolasi, dengan total 35.387 jiwa terdampak isolasi. Kondisi ini menjadi tantangan besar dalam proses distribusi bantuan dan evakuasi warga.
Upaya pembukaan akses darurat terus dilakukan agar bantuan logistik, tenaga medis, serta peralatan berat dapat segera menjangkau wilayah-wilayah tersebut. Pemerintah daerah bekerja sama dengan BPBD, aparat TNI dan Polri untuk mempercepat penanganan di lapangan.
Kerusakan Infrastruktur yang Signifikan
Dampak bencana hidrometeorologi di Bener Meriah sangat terasa pada sektor infrastruktur. Tercatat sebanyak 166 jembatan mengalami kerusakan, baik ringan hingga berat. Selain itu, terdapat 81 titik jalan rusak yang mencakup jalan nasional, provinsi, dan kabupaten, sehingga menghambat mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi.
Bencana juga memicu longsor di 61 lokasi dan banjir di 27 titik. Kondisi ini tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga meningkatkan risiko bencana susulan, terutama jika curah hujan tinggi kembali terjadi dalam waktu dekat.
Kerusakan Permukiman dan Fasilitas Air Bersih
Sebanyak 1.792 unit rumah warga tercatat mengalami kerusakan dengan kategori rusak berat, sedang, dan ringan. Kerusakan ini memaksa banyak keluarga kehilangan tempat tinggal dan bergantung pada bantuan pemerintah serta solidaritas masyarakat.
Selain rumah warga, sebanyak 43 titik saluran air bersih turut terdampak. Gangguan pada sistem air bersih berpotensi menimbulkan masalah kesehatan jika tidak segera ditangani. Oleh karena itu, pemerintah daerah memastikan upaya perbaikan darurat dilakukan agar kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi.
Dampak pada Sektor Pertanian
Sebagai daerah yang bergantung pada sektor pertanian dan perkebunan, Bener Meriah merasakan dampak besar di sektor ini. Laporan mencatat kerusakan kebun kopi seluas 291,5 hektar, sawah seluas 65,227 hektar, serta perkebunan lain seluas 214,2 hektar. Selain itu, kolam budidaya seluas 0,645 hektar juga terdampak.
Kerusakan ini berpotensi memengaruhi pendapatan petani dan ketahanan ekonomi lokal dalam jangka menengah. Pemerintah daerah mulai melakukan pendataan lanjutan untuk merumuskan langkah pemulihan sektor pertanian, termasuk kemungkinan bantuan bibit, pupuk, dan rehabilitasi lahan.
Fasilitas Umum Turut Terdampak
Bencana hidrometeorologi ini juga merusak sejumlah fasilitas umum. Tercatat 22 fasilitas pendidikan, 23 fasilitas peribadatan, dan 15 fasilitas kesehatan mengalami kerusakan dengan tingkat yang beragam. Kerusakan ini tentu berdampak pada pelayanan publik, terutama layanan pendidikan dan kesehatan.
Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Bener Meriah memastikan bahwa pelayanan publik tetap berjalan. Seluruh puskesmas dan rumah sakit umum tetap beroperasi, begitu pula layanan perkantoran, penyediaan air bersih, dan penanganan sampah. Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas layanan dasar bagi masyarakat di tengah situasi darurat.
Langkah Tanggap Darurat Terus Dilakukan
Pemerintah daerah bersama BPBD, TNI/Polri, dan seluruh pemangku kepentingan terus melakukan langkah tanggap darurat. Fokus utama meliputi penyelamatan warga, pendataan dampak lanjutan, pembukaan akses ke wilayah terisolir, serta percepatan penyaluran bantuan logistik.
Koordinasi lintas instansi menjadi kunci dalam penanganan bencana berskala besar ini. Pemerintah daerah juga membuka ruang kolaborasi dengan relawan dan organisasi kemanusiaan untuk memperluas jangkauan bantuan kepada masyarakat terdampak.
Imbauan kepada Masyarakat
Di tengah upaya penanganan yang masih berlangsung, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan. Kondisi cuaca yang belum sepenuhnya stabil menuntut kewaspadaan ekstra, terutama bagi warga yang tinggal di daerah rawan longsor dan banjir.
Pemerintah daerah mengajak masyarakat untuk mengikuti arahan petugas di lapangan, tidak memaksakan diri kembali ke rumah yang belum dinyatakan aman, serta segera melaporkan kondisi darurat yang membutuhkan penanganan cepat.
Komitmen Pemulihan Jangka Pendek dan Panjang
Penanganan bencana hidrometeorologi di Bener Meriah tidak berhenti pada fase tanggap darurat. Pemerintah daerah telah menyiapkan langkah-langkah pemulihan jangka pendek dan jangka panjang, termasuk rehabilitasi infrastruktur, pemulihan sektor pertanian, serta pemulihan sosial ekonomi masyarakat.
Pendataan kerusakan yang akurat menjadi dasar penting dalam perencanaan pemulihan. Dengan data yang valid, pemerintah daerah dapat mengajukan dukungan anggaran dan bantuan dari pemerintah provinsi maupun pusat secara tepat sasaran.
Kesimpulan
Bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Bener Meriah menimbulkan dampak besar pada kehidupan masyarakat, infrastruktur, dan sektor ekonomi. Pemerintah daerah bersama BPBD, TNI/Polri, dan seluruh pemangku kepentingan terus bekerja keras melakukan penanganan darurat, pendataan, serta penyaluran bantuan.
Dengan sinergi semua pihak dan kepatuhan masyarakat terhadap arahan petugas, diharapkan proses penanganan dan pemulihan dapat berjalan lebih cepat dan efektif. Kewaspadaan terhadap potensi bencana susulan tetap menjadi kunci demi keselamatan bersama dan pemulihan Bener Meriah secara berkelanjutan.
Baca Juga : Wamen Nezar Patria Tinjau Distribusi Bantuan Bencana di Sumatra
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : podiumnews

