Ketegangan geopolitik global kembali menguat setelah intervensi militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela menuai sorotan tajam dari parlemen Inggris. Sejumlah anggota parlemen menilai tindakan sepihak tersebut berpotensi melemahkan fondasi hukum internasional yang selama ini menjadi rujukan dalam hubungan antarnegara. Kekhawatiran itu mengemuka seiring minimnya kecaman terbuka dari negara-negara Barat terhadap langkah Washington.
Ketua Komite Urusan Luar Negeri Parlemen Inggris, Emily Thornberry, menyatakan bahwa ketidaktegasan Barat dapat menciptakan preseden berbahaya. Menurutnya, jika intervensi militer AS terhadap Venezuela dibiarkan tanpa kritik berarti, negara-negara besar lain seperti Tiongkok dan Rusia dapat merasa memiliki legitimasi moral untuk melakukan tindakan serupa di wilayah yang mereka anggap sebagai lingkup pengaruhnya.
Risiko Preseden Global yang Berbahaya
Dalam wawancara dengan media Inggris, Thornberry menegaskan bahwa penyingkiran Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan AS tidak memiliki dasar hukum internasional yang jelas. Ia menilai tindakan tersebut berpotensi mengikis norma global yang selama puluhan tahun dibangun melalui kesepakatan dan praktik diplomasi multilateral.
Menurut Thornberry, kekuatan hukum internasional tidak hanya terletak pada teks perjanjian atau piagam PBB, tetapi juga pada kesediaan negara-negara untuk saling menegur ketika terjadi pelanggaran. Tanpa adanya kecaman terbuka, batas-batas perilaku yang dapat diterima dalam hubungan internasional berisiko bergeser secara perlahan.
Ia mengingatkan bahwa negara-negara seperti Rusia atau Tiongkok dapat menggunakan preseden ini untuk membenarkan tindakan agresif di wilayah sensitif seperti Ukraina atau Taiwan. Jika itu terjadi, dunia internasional akan menghadapi situasi yang jauh lebih tidak stabil dan sulit dikendalikan.
Sikap Hati-hati Pemerintah Inggris
Hingga saat ini, pemerintah Inggris belum mengeluarkan kecaman keras terhadap intervensi AS. Perdana Menteri Keir Starmer menyatakan bahwa tindakan Washington merupakan tanggung jawab Amerika Serikat untuk menjelaskannya kepada publik internasional. Ia menggambarkan situasi tersebut sebagai persoalan yang rumit dan tidak sederhana.
Sikap hati-hati ini mencerminkan dilema diplomatik yang dihadapi Inggris. Di satu sisi, Inggris ingin menjaga hubungan strategis dengan AS sebagai sekutu utama. Di sisi lain, tekanan politik domestik meningkat agar pemerintah menunjukkan komitmen terhadap penegakan hukum internasional.
Thornberry mengakui bahwa posisi tersebut tidak mudah. Namun, ia menekankan bahwa menjaga hubungan baik dengan sekutu tidak seharusnya mengorbankan prinsip dasar hukum internasional. Menurutnya, tanpa prinsip yang jelas, sistem global dapat terjerumus ke dalam kondisi anarki di mana kekuatan militer menjadi penentu utama.
Kritik dari Internal Partai Buruh
Selain Thornberry, kritik lebih keras juga datang dari anggota parlemen Partai Buruh lainnya. Richard Burgon secara terbuka menyoroti sikap pemerintah melalui media sosial, menilai bahwa keengganan mengecam AS merupakan keputusan yang memalukan dan merusak kredibilitas Inggris sebagai negara yang menjunjung hukum internasional.
Burgon mendesak perdana menteri untuk hadir di parlemen dan memberikan penjelasan langsung terkait posisi pemerintah. Menurutnya, parlemen dan publik berhak mengetahui alasan di balik sikap diam pemerintah terhadap tindakan militer sepihak tersebut.
Perbedaan pandangan di internal Partai Buruh ini menunjukkan adanya perdebatan serius mengenai arah kebijakan luar negeri Inggris, khususnya dalam menghadapi dinamika geopolitik yang melibatkan sekutu dekat seperti AS.
Dampak Jangka Panjang bagi Tata Dunia
Intervensi militer AS di Venezuela tidak hanya berdampak pada kawasan Amerika Latin, tetapi juga memiliki implikasi jangka panjang bagi tatanan global. Jika negara-negara besar mulai mengabaikan prinsip kedaulatan dan non-intervensi, maka risiko konflik berskala besar akan meningkat.
Para pengamat menilai bahwa lemahnya respons kolektif dari negara-negara Barat dapat mempercepat erosi norma internasional. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mendorong perlombaan kekuatan militer dan memperlemah peran lembaga multilateral seperti PBB.
Thornberry menekankan bahwa bahkan kecaman verbal memiliki arti penting dalam menjaga norma global. Meski tidak selalu menghentikan tindakan agresif, kecaman terbuka dapat menjadi sinyal bahwa komunitas internasional tidak menerima pelanggaran hukum internasional sebagai hal yang wajar.
Kekhawatiran Pascapenangkapan Maduro
Selain aspek hukum, Thornberry juga menyoroti minimnya perencanaan pascapenyingkiran Maduro. Ia mempertanyakan bagaimana masa depan Venezuela akan dikelola dan siapa yang bertanggung jawab atas stabilitas politik dan kemanusiaan di negara tersebut.
Maduro dan istrinya, Cilia Flores, kini menghadapi dakwaan federal di AS terkait perdagangan narkoba dan dugaan kerja sama dengan kelompok kriminal. Namun, Maduro membantah seluruh tuduhan tersebut, sementara pemerintah di Caracas menyerukan pembebasan mereka.
Kondisi ini menambah kompleksitas situasi dan meningkatkan risiko instabilitas di Venezuela. Tanpa kerangka hukum internasional yang jelas, transisi kekuasaan berpotensi memicu konflik internal dan krisis kemanusiaan yang lebih luas.
Seruan Menjaga Norma Internasional
Di tengah dinamika tersebut, Thornberry menyerukan agar Inggris dan negara-negara Barat lainnya mengambil sikap lebih tegas dalam membela hukum internasional. Menurutnya, norma global hanya dapat bertahan jika ada kesepakatan bersama untuk menegakkannya, termasuk dengan mengkritik pelanggaran yang dilakukan oleh sekutu sendiri.
Ia menegaskan bahwa dukungan terhadap hukum internasional bukanlah pilihan, melainkan keharusan untuk menjaga stabilitas dunia. Tanpa komitmen tersebut, hubungan antarnegara akan semakin didominasi oleh kekuatan dan kepentingan sempit.
Penutup
Peringatan dari Parlemen Inggris menjadi pengingat bahwa intervensi militer sepihak memiliki konsekuensi jauh melampaui tujuan jangka pendek. Ketidaktegasan dalam merespons tindakan AS di Venezuela berpotensi membuka pintu bagi praktik serupa di masa depan, yang pada akhirnya dapat merusak tatanan global berbasis aturan.
Dalam konteks ini, perdebatan di Inggris mencerminkan tantangan yang dihadapi banyak negara: menyeimbangkan hubungan strategis dengan sekutu sekaligus mempertahankan komitmen terhadap hukum internasional. Bagaimana dunia merespons preseden ini akan sangat menentukan arah stabilitas global dalam beberapa dekade mendatang.
Baca Juga : Trauma Healing Anak Korban Banjir di Kayu Pasak oleh Polda Sumbar
Cek Juga Artikel Dari Platform : podiumnews

