Perayaan malam pergantian tahun di Jakarta berlangsung dengan nuansa berbeda. Di Lapangan Banteng, ratusan pengunjung menikmati pertunjukan musik dalam gelaran Jakarta Musik Festival sambil berdonasi untuk membantu masyarakat terdampak bencana alam di berbagai wilayah Indonesia. Perayaan ini menjadi simbol bagaimana hiburan, empati, dan solidaritas sosial dapat berjalan beriringan.
Gebyar pertunjukan musik tersebut menjadi salah satu titik utama perayaan malam Tahun Baru di Jakarta Pusat. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang identik dengan pesta kembang api, malam pergantian tahun kali ini dikemas lebih reflektif. Pemerintah Provinsi melalui Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara tegas melarang pesta kembang api sebagai bentuk empati terhadap korban bencana alam yang masih berjuang di pengungsian.
Musik sebagai Ruang Kebersamaan
Sejak pukul 22.20 WIB, sejumlah grup band dengan beragam genre musik tampil bergantian di atas panggung utama. Alunan musik pop, rock, hingga alternatif sukses membius penonton yang memadati area Lapangan Banteng. Banyak pengunjung tampak bernyanyi bersama, bergoyang, dan menikmati suasana kebersamaan yang hangat di tengah udara malam Jakarta.
Konser musik ini tidak hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga ruang pertemuan sosial lintas usia dan latar belakang. Warga yang datang bersama keluarga, sahabat, maupun komunitas terlihat larut dalam suasana yang penuh keakraban. Tanpa dentuman kembang api, musik menjadi pusat perhatian sekaligus sarana ekspresi kegembiraan menyambut tahun baru.
Donasi Digital, Solidaritas Nyata
Di sela-sela pertunjukan musik, panitia menyediakan fasilitas donasi digital. Pengunjung dapat dengan mudah berdonasi melalui pemindaian barcode yang ditampilkan di videotron maupun banner di sekitar area panggung. Skema donasi ini mendapat respons positif dari warga yang hadir.
Tasya (36), warga Kwitang, mengaku terkesan dengan konsep perayaan malam tahun baru kali ini. Menurutnya, menikmati musik sambil berdonasi memberikan makna yang lebih dalam dibandingkan sekadar perayaan seremonial.
“Saya pribadi sepakat dengan kebijakan Pemprov DKI yang melarang pesta kembang api. Perayaan malam ini justru lebih bermakna karena menghibur sekaligus menumbuhkan empati dan solidaritas untuk saudara-saudara kita yang terdampak bencana,” tuturnya.
Bagi Tasya dan banyak pengunjung lainnya, perayaan ini menjadi pengingat bahwa pergantian tahun bukan hanya soal kegembiraan, tetapi juga momentum berbagi dan peduli terhadap sesama.
Apresiasi Pemerintah Kota
Wali Kota Jakarta Pusat Arifin turut hadir dan mengapresiasi penyelenggaraan acara puncak malam tahun baru di Lapangan Banteng. Ia menyampaikan terima kasih kepada Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) DKI Jakarta yang telah menghadirkan konsep perayaan yang berbeda dan sarat nilai kemanusiaan.
Dalam sambutannya, Arifin mengajak seluruh pengunjung untuk menyisihkan sebagian rezekinya melalui donasi yang disediakan. Ia menegaskan bahwa absennya pesta kembang api bukan berarti mengurangi makna perayaan, melainkan justru memperkuat rasa kepedulian sosial.
“Pergantian tahun kali ini memang berbeda. Tidak ada pesta kembang api karena kita ingin menghadirkan rasa empati terhadap saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah dan masih berada di pengungsian,” ujarnya.
Donasi Capai Miliaran Rupiah
Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Parekraf DKI Jakarta, Puji Hastuti, mengungkapkan bahwa secara keseluruhan donasi yang terkumpul di wilayah DKI Jakarta mencapai Rp 2,9 miliar. Namun, khusus donasi dari Lapangan Banteng masih dalam proses penghitungan karena dilakukan secara terpusat di tingkat provinsi.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga Jakarta yang telah mendonasikan sebagian rezekinya untuk membantu sesama,” kata Puji.
Angka tersebut menunjukkan tingginya kepedulian masyarakat Jakarta terhadap kondisi kemanusiaan di berbagai daerah. Donasi ini diharapkan dapat membantu meringankan beban korban bencana, mulai dari kebutuhan dasar hingga proses pemulihan pascabencana.
Doa Lintas Agama Menutup Perayaan
Menjelang tengah malam, suasana perayaan semakin khidmat dengan digelarnya doa lintas agama. Doa dipimpin oleh KH Abi Ichwanudin, Bendahara Umum Majelis Ulama Indonesia DKI Jakarta, didampingi tokoh-tokoh agama lainnya, yakni perwakilan Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Doa bersama dimulai sekitar pukul 23.32 WIB.
Dalam doa tersebut, para pemuka agama mengajak masyarakat untuk memperkuat kepedulian terhadap sesama, memohon agar bencana alam segera berakhir, serta berharap keberkahan bagi para pemimpin dan kelancaran pembangunan.
“Jadikan Jakarta kota yang tangguh menghadapi tantangan global, namun tetap memberikan pelayanan prima dan peduli terhadap sesama,” ucap KH Abi Ichwanudin dalam doanya.
Perayaan Bermakna, Bukan Sekadar Euforia
Perayaan malam tahun baru di Lapangan Banteng menunjukkan wajah lain Jakarta sebagai kota yang tidak hanya mampu menghadirkan hiburan, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan. Musik, donasi, dan doa lintas agama berpadu menjadi satu rangkaian kegiatan yang sarat makna.
Tanpa pesta kembang api, malam pergantian tahun tetap terasa meriah sekaligus reflektif. Bagi banyak warga, momen ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati dapat tumbuh dari rasa kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama.
Melalui konsep perayaan seperti ini, Jakarta memberi contoh bahwa menyambut tahun baru tidak harus selalu dengan kemewahan dan hingar-bingar, melainkan bisa dilakukan dengan cara yang lebih sederhana, empatik, dan bermakna bagi banyak orang.
Baca Juga : Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini, Hujan Guyur Seharian
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : otomotifmotorindo

