Pembinaan Spiritual Jadi Bagian Penting Pemasyarakatan
Pembinaan keagamaan menjadi salah satu pilar utama dalam sistem pemasyarakatan di Indonesia. Melalui pendekatan spiritual, warga binaan diharapkan tidak hanya menjalani hukuman secara administratif, tetapi juga mengalami perubahan sikap, pola pikir, dan perilaku ke arah yang lebih positif. Prinsip inilah yang terus dipegang oleh Lapas Perempuan Bengkulu dalam melaksanakan berbagai program pembinaan.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Lapas Perempuan Bengkulu kembali menggelar kegiatan tausiyah dan yasinan pada Sabtu, 20 Desember 2025. Kegiatan ini berlangsung di Masjid At-Taubah, dan diikuti oleh seluruh warga binaan beragama Islam dengan penuh khidmat.
Tausiyah dan Yasinan di Masjid At-Taubah
Sejak pagi hari, suasana Masjid At-Taubah tampak berbeda dari biasanya. Warga binaan berkumpul dengan tertib, mengenakan pakaian yang rapi, dan mempersiapkan diri untuk mengikuti rangkaian kegiatan keagamaan. Acara diawali dengan pembacaan Surah Yasin secara bersama-sama, dilanjutkan dengan doa dan tausiyah.
Kegiatan tausiyah dipandu oleh ustaz dari **Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Kota Bengkulu. Dalam ceramahnya, ustaz menyampaikan pesan-pesan keimanan, kesabaran, dan harapan. Materi tausiyah difokuskan pada pentingnya introspeksi diri, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, serta mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan.
Penguatan Iman dan Ketakwaan Warga Binaan
Melalui kegiatan ini, warga binaan diajak untuk merenungi perjalanan hidup masing-masing. Tausiyah disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan menyentuh, sehingga mudah dipahami oleh seluruh peserta. Banyak warga binaan terlihat khusyuk mendengarkan, bahkan tak sedikit yang menitikkan air mata saat materi menyentuh pengalaman pribadi mereka.
Pesan utama yang disampaikan adalah bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk berubah. Masa pembinaan di dalam lapas bukanlah akhir dari segalanya, melainkan kesempatan untuk memperbaiki diri dan menata kembali masa depan. Nilai-nilai ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran spiritual yang lebih mendalam.
Program Rutin Pembinaan Mental dan Spiritual
Kepala Lapas Perempuan Bengkulu, Suci Winarsih, menyampaikan bahwa kegiatan tausiyah dan yasinan merupakan bagian dari program pembinaan rutin yang terus dijalankan. Menurutnya, pembinaan mental dan spiritual memiliki peran penting dalam mendukung proses rehabilitasi warga binaan.
“Kegiatan ini kami laksanakan secara rutin sebagai bentuk pembinaan kepribadian. Kami ingin warga binaan tidak hanya menjalani hukuman, tetapi juga mendapatkan bekal mental dan spiritual yang kuat,” ujar Suci Winarsih.
Ia menambahkan bahwa pembinaan keagamaan menjadi sarana efektif untuk menanamkan nilai-nilai moral, disiplin, dan tanggung jawab. Dengan keimanan yang lebih baik, warga binaan diharapkan mampu mengendalikan emosi serta mengambil keputusan yang lebih bijak.
Membantu Warga Binaan Menjalani Masa Pembinaan
Masa pembinaan di lapas sering kali menjadi periode yang penuh tantangan bagi warga binaan. Jauh dari keluarga, menghadapi keterbatasan ruang gerak, serta tekanan psikologis dapat memengaruhi kondisi mental. Oleh karena itu, kegiatan keagamaan seperti tausiyah dan yasinan menjadi ruang refleksi yang menenangkan.
Melalui kegiatan ini, warga binaan dapat merasakan kebersamaan dan dukungan moral. Doa bersama dan lantunan ayat suci Al-Qur’an memberikan ketenangan batin serta rasa optimisme. Hal ini sejalan dengan tujuan pemasyarakatan, yakni membina dan memulihkan individu agar siap kembali ke masyarakat.
Peran Dai dalam Pembinaan Keagamaan
Keterlibatan Ikatan Dai Indonesia Kota Bengkulu menjadi nilai tambah dalam kegiatan ini. Para dai tidak hanya menyampaikan ceramah, tetapi juga berperan sebagai pendamping spiritual. Dengan pengalaman dan pendekatan yang humanis, para ustaz mampu membangun komunikasi yang baik dengan warga binaan.
Pendekatan ini penting agar pesan keagamaan dapat diterima dengan baik dan tidak bersifat menggurui. Warga binaan didorong untuk berdialog, bertanya, dan berbagi pengalaman, sehingga pembinaan menjadi lebih bermakna.
Mempersiapkan Kembali ke Masyarakat
Salah satu tujuan utama pembinaan di lapas adalah mempersiapkan warga binaan agar siap kembali ke tengah masyarakat setelah menjalani masa hukuman. Pembinaan spiritual menjadi fondasi penting dalam proses ini. Dengan nilai-nilai keimanan yang kuat, warga binaan diharapkan mampu beradaptasi dan menjalani kehidupan yang lebih baik.
Kepala Lapas menegaskan bahwa pembinaan tidak berhenti pada aspek keagamaan saja. Lapas Perempuan Bengkulu juga mengintegrasikan pembinaan kemandirian, keterampilan, dan pendidikan sebagai bekal menyeluruh bagi warga binaan.
Komitmen Lapas Perempuan Bengkulu
Melalui kegiatan tausiyah dan yasinan ini, Lapas Perempuan Bengkulu menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pembinaan yang humanis dan berkelanjutan. Program keagamaan menjadi salah satu wujud nyata perhatian terhadap kesejahteraan mental dan spiritual warga binaan.
Dengan dukungan berbagai pihak, termasuk organisasi keagamaan dan tokoh masyarakat, Lapas Perempuan Bengkulu berharap proses pembinaan dapat berjalan optimal. Tujuan akhirnya adalah melahirkan warga binaan yang sehat secara mental, kuat secara spiritual, dan siap menjalani kehidupan baru yang lebih baik setelah bebas nanti.
Baca Juga : Bobby Nasution Tetapkan UMP Sumut 2026 Naik 7,9 Persen
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : monitorberita

