Insiden Terbaru di Tengah Gencatan Senjata
Ketegangan kembali muncul di perbatasan antara Thailand dan Kamboja setelah seorang tentara Thailand terluka akibat insiden mortir di wilayah sengketa. Peristiwa ini terjadi ketika gencatan senjata yang disepakati pada akhir Desember masih berlaku, memunculkan kekhawatiran bahwa kesepakatan damai tersebut kembali diuji oleh dinamika di lapangan.
Militer Thailand awalnya menuduh pasukan Kamboja melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan menembakkan mortir ke wilayah Provinsi Ubon Ratchathani. Serangan itu menyebabkan satu prajurit Thailand terluka akibat serpihan ledakan dan harus segera dievakuasi untuk mendapatkan perawatan medis.
Namun, beberapa jam setelah tuduhan tersebut, pihak Thailand mengeluarkan pernyataan lanjutan yang menyebut bahwa militer Kamboja telah menghubungi mereka dan mengakui insiden tersebut sebagai sebuah kecelakaan.
Klaim Kamboja: Kesalahan Operasional
Menurut keterangan Royal Thai Army, pihak Kamboja menjelaskan bahwa tidak ada niat untuk menyerang wilayah Thailand. Mereka mengklaim insiden mortir tersebut terjadi akibat kesalahan operasional personel di lapangan.
“Tidak ada niat untuk menembaki wilayah Thailand, insiden tersebut disebabkan oleh kesalahan operasional,” demikian pernyataan yang disampaikan militer Thailand, mengutip penjelasan dari pihak Kamboja.
Meski menerima penjelasan tersebut, militer Thailand tetap mengeluarkan peringatan keras. Unit Thailand di perbatasan menegaskan bahwa kesalahan serupa tidak boleh terulang, dan apabila terjadi lagi, Bangkok dapat terdorong untuk mengambil langkah-langkah balasan defensif demi melindungi kedaulatan wilayahnya.
Gencatan Senjata yang Masih Rapuh
Thailand dan Kamboja sebelumnya menyepakati gencatan senjata pada 27 Desember, setelah tiga pekan bentrokan bersenjata yang menewaskan puluhan orang dan memaksa sekitar satu juta warga di kedua sisi perbatasan mengungsi. Kesepakatan tersebut mencakup penghentian tembak-menembak, pembekuan pergerakan pasukan, serta kerja sama pembersihan ranjau darat.
Insiden mortir ini menjadi ujian serius bagi kesepakatan yang baru berjalan sekitar 10 hari. Meski tidak langsung memicu eskalasi lanjutan, peristiwa ini menunjukkan betapa rentannya situasi keamanan di wilayah perbatasan yang telah lama disengketakan.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Nasional Kamboja, Maly Socheata, menolak memberikan komentar rinci terkait insiden tersebut. Sikap ini menambah spekulasi mengenai bagaimana sebenarnya kondisi koordinasi militer kedua negara di lapangan.
Akar Konflik Thailand–Kamboja
Sengketa antara Thailand dan Kamboja bukanlah persoalan baru. Konflik ini berakar dari penetapan garis batas era kolonial sepanjang sekitar 800 kilometer yang hingga kini masih menyisakan banyak wilayah tumpang tindih klaim. Beberapa titik perbatasan, termasuk kawasan dengan reruntuhan kuil berusia ratusan tahun, menjadi sumber ketegangan berkepanjangan.
Dalam beberapa dekade terakhir, konflik tersebut berkali-kali memanas dan mereda. Tahun lalu, bentrokan militer kembali pecah dan menjadi salah satu yang paling mematikan dalam sejarah terbaru hubungan kedua negara. Bentrokan itu melibatkan artileri berat, ranjau darat, dan pergerakan pasukan skala besar.
Upaya Membangun Kepercayaan
Sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan, Thailand membebaskan 18 tentara Kamboja yang ditahan sejak Juli lalu. Pembebasan dilakukan pada 31 Desember dan oleh Kementerian Luar Negeri Thailand disebut sebagai “demonstrasi niat baik dan upaya membangun kepercayaan.”
Pemerintah Kamboja menyambut langkah tersebut dengan sikap optimistis. Phnom Penh menyatakan bahwa pembebasan para tentara itu diharapkan dapat berkontribusi signifikan dalam membangun kepercayaan bersama dan membuka jalan bagi dialog yang lebih konstruktif.
Sebelumnya, Amerika Serikat, China, dan Malaysia sempat memediasi gencatan senjata pada Juli. Namun, kesepakatan tersebut gagal bertahan lama akibat insiden ranjau darat yang melukai sejumlah prajurit Thailand.
Dinamika Politik dan Diplomasi
Ketegangan perbatasan juga tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik domestik masing-masing negara. Bangkok menyatakan bahwa pertemuan komite perbatasan bilateral untuk membahas survei dan demarkasi wilayah kemungkinan baru dapat dilakukan oleh pemerintahan Thailand berikutnya, menyusul pemilu yang dijadwalkan pada 8 Februari.
Di sisi lain, Kamboja telah mengusulkan pertemuan komite perbatasan bilateral yang dijadwalkan digelar bulan ini di Siem Reap. Phnom Penh berharap dialog teknis tersebut dapat mempercepat penyelesaian sengketa batas yang selama ini menjadi pemicu konflik.
Namun, perbedaan sikap dan jadwal politik membuat proses diplomasi berjalan lambat. Situasi ini meningkatkan risiko terjadinya insiden-insiden kecil di lapangan yang berpotensi memicu eskalasi lebih besar jika tidak ditangani secara cepat dan transparan.
Ancaman Eskalasi dan Harapan Perdamaian
Insiden mortir yang melukai tentara Thailand menunjukkan bahwa meski gencatan senjata telah disepakati, perdamaian di perbatasan Thailand–Kamboja masih sangat rapuh. Kesalahan operasional, miskomunikasi, atau provokasi kecil dapat dengan mudah berkembang menjadi konflik bersenjata yang lebih luas.
Bagi masyarakat di wilayah perbatasan, stabilitas keamanan menjadi kebutuhan mendesak. Gelombang pengungsian besar yang terjadi pada Desember lalu masih meninggalkan trauma dan kerugian ekonomi yang signifikan. Oleh karena itu, kedua negara berada di bawah tekanan untuk memastikan bahwa insiden serupa tidak terulang.
Ke depan, keberhasilan gencatan senjata akan sangat bergantung pada komitmen kedua pihak untuk menahan diri, memperkuat komunikasi militer di lapangan, serta melanjutkan dialog diplomatik yang berorientasi pada penyelesaian jangka panjang. Tanpa itu, konflik lama yang telah berlangsung puluhan tahun berisiko kembali meletus, mengancam stabilitas kawasan Asia Tenggara secara keseluruhan.
Baca Juga : Trump Ancam Serangan Lanjutan Usai Maduro Ditangkap
Cek Juga Artikel Dari Platform : petanimal

