Perayaan Tahun Baru 2026 di kawasan Sudirman bukan sekadar pesta pergantian kalender. Bagi banyak warga, momen ini menjadi ruang refleksi untuk menyampaikan harapan dan evaluasi terhadap wajah Jakarta yang kian mendekati usia 500 tahun pada 2027. Di tengah gemerlap lampu kota dan suasana perayaan yang lebih tertib, suara warga mencerminkan keinginan akan Jakarta yang semakin nyaman, tertata, dan inklusif.
Sebagai kota megapolitan sekaligus pusat ekonomi nasional, Jakarta terus bergerak menuju predikat kota global. Namun, di balik berbagai pencapaian pembangunan, warga berharap kemajuan tersebut dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya di kawasan pusat kota.
Refleksi Warga di Malam Pergantian Tahun
Di tengah keramaian malam tahun baru, sejumlah warga menyampaikan pandangan mereka tentang Jakarta hari ini dan esok. Puspita (42), warga Bintaro, Jakarta Selatan, menilai bahwa Jakarta telah mengalami banyak kemajuan yang patut diapresiasi. Mulai dari infrastruktur, ruang publik, hingga transportasi umum yang semakin berkembang.
Meski demikian, Puspita berharap perhatian pemerintah tidak hanya terfokus di pusat kota. Menurutnya, kawasan pinggiran Jakarta masih membutuhkan penataan yang lebih serius agar kualitas lingkungan dan fasilitas publik dapat dirasakan secara merata.
“Yang penting rapi. Jangan cuma pusat kota saja yang diperhatikan,” ujarnya.
Harapan tersebut mencerminkan keinginan warga agar pembangunan Jakarta bersifat inklusif. Penataan permukiman, ruang terbuka hijau, hingga akses layanan publik di wilayah pinggiran dinilai sama pentingnya dengan pembangunan kawasan bisnis dan pusat pemerintahan.
Transportasi Publik Jadi Kebanggaan
Salah satu aspek yang paling banyak mendapat apresiasi dari warga adalah kemajuan transportasi publik. Puspita, yang sehari-hari menggunakan Transjakarta untuk berangkat kerja ke kawasan Kuningan dan Setiabudi, merasakan langsung peningkatan layanan yang semakin nyaman dan terintegrasi.
Menurutnya, transportasi publik yang andal bukan hanya soal mobilitas, tetapi juga fondasi penting bagi Jakarta untuk memperkuat posisinya sebagai kota global. Akses yang mudah, tarif terjangkau, dan integrasi antarmoda membuat masyarakat semakin terdorong meninggalkan kendaraan pribadi.
“Kemajuan transportasi publik salah satu yang penting untuk Jakarta memperkuat posisinya sebagai kota global,” tuturnya.
Transportasi yang baik juga berdampak langsung pada kualitas hidup warga. Waktu tempuh yang lebih singkat, polusi yang berkurang, serta kemudahan akses ke berbagai kawasan kota menjadi manfaat nyata yang dirasakan masyarakat.
Infrastruktur dan Ketertiban Kota
Pandangan serupa disampaikan Faisal (28), warga Penjaringan, Jakarta Utara. Ia menyoroti pentingnya perbaikan jalan secara menyeluruh dan penataan parkir liar yang masih menjadi persoalan di sejumlah wilayah. Menurut Faisal, infrastruktur yang sudah dibangun dengan baik perlu didukung oleh ketertiban dan pengawasan yang konsisten.
“Penataan jalan dan parkir liar menurut saya sih. Infrastruktur yang sudah bagus harus didukung dengan ketertiban dan kenyamanan,” ujarnya.
Faisal juga mengapresiasi pengelolaan sampah di Jakarta yang dinilainya semakin rapi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Upaya pemerintah dalam menekan timbulan sampah, meningkatkan kecepatan pembersihan, serta mendorong partisipasi warga dinilai mulai menunjukkan hasil positif.
Menuju Jakarta Kota Global
Harapan warga tidak berhenti pada isu teknis semata. Banyak yang memandang momen menuju lima abad Jakarta sebagai kesempatan besar untuk melakukan transformasi menyeluruh. Kota global, menurut warga, bukan hanya tentang gedung pencakar langit atau pusat bisnis modern, tetapi juga tentang kualitas hidup, keadilan sosial, dan keberlanjutan lingkungan.
Jakarta yang ideal di mata warga adalah kota yang ramah bagi pejalan kaki, penyandang disabilitas, anak-anak, dan lansia. Kota yang menyediakan ruang publik aman, transportasi terjangkau, serta lingkungan yang bersih dan sehat. Semua itu dinilai sebagai indikator penting dari kota global yang sesungguhnya.
Harapan Akan Pemerataan Pembangunan
Pemerataan pembangunan menjadi benang merah dari berbagai harapan warga. Ketimpangan antara pusat dan pinggiran kota masih menjadi perhatian. Warga berharap pemerintah dapat terus memperkuat pembangunan berbasis wilayah, sehingga setiap sudut Jakarta memiliki standar kualitas lingkungan dan layanan publik yang relatif setara.
Selain itu, keterlibatan masyarakat dalam proses pembangunan juga dinilai penting. Warga ingin aspirasinya didengar dan dijadikan bagian dari perencanaan kota. Dengan demikian, pembangunan tidak hanya bersifat top-down, tetapi juga responsif terhadap kebutuhan nyata di lapangan.
Optimisme Menyambut Tahun Baru
Meski masih ada berbagai pekerjaan rumah, optimisme tetap terasa di tengah warga yang merayakan Tahun Baru 2026. Banyak yang percaya bahwa dengan konsistensi kebijakan, kolaborasi lintas sektor, dan partisipasi masyarakat, Jakarta mampu terus berbenah.
Faisal menutup pandangannya dengan harapan besar, “Semoga memasuki lima abad, Jakarta terus bertransformasi menjadi kota global yang modern, tertata, dan memberikan kualitas hidup warga yang lebih baik.”
Harapan-harapan ini menjadi pengingat bahwa pembangunan kota sejatinya tidak hanya diukur dari proyek fisik, tetapi juga dari kepuasan dan kesejahteraan warganya. Di awal tahun baru ini, suara warga menjadi cermin sekaligus kompas bagi Jakarta untuk melangkah menuju masa depan yang lebih baik.
Baca Juga : Musik, Empati, dan Donasi Warnai Malam Tahun Baru di Lapangan Banteng
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : ngobrol

