Penumpukan Sampah Dipicu Keterbatasan Armada
Penumpukan sampah kembali terjadi di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Tumpukan sampah terlihat menggunung di area belakang pasar dan menimbulkan bau menyengat. Pengelola pasar mengungkapkan bahwa persoalan ini dipicu oleh keterbatasan armada pengangkut sampah yang tersedia.
Manager Pasar Induk Kramat Jati, Agus Lamun, menjelaskan bahwa volume sampah harian yang dihasilkan pasar sangat besar dan tidak sebanding dengan jumlah armada pengangkut yang dapat dioperasikan setiap hari.
Produksi Sampah Capai 150 Ton per Hari
Menurut Agus, Pasar Induk Kramat Jati menghasilkan sampah sekitar 120 hingga 150 ton per hari. Volume tersebut berasal dari aktivitas perdagangan yang berlangsung hampir tanpa henti selama 24 jam, mulai dari lapak pedagang, area bongkar muat, hingga sisa-sisa bahan pangan yang tidak terjual.
“Kondisi yang terjadi sekarang ini memang idealnya dari 120 ton sampah yang ada, kita butuh setiap harinya itu 12 sampai dengan 15 armada. Namun maksimal yang bisa dilakukan Sudin Lingkungan Hidup hanya sekitar delapan armada,” ujar Agus.
Besarnya volume sampah ini membuat pengelolaan menjadi tantangan serius, terutama ketika jumlah armada pengangkut tidak mencukupi.
Sampah Dikumpulkan di TPS, Tapi Tak Terangkut Maksimal
Pengelola pasar menyebut bahwa upaya pembersihan sebenarnya telah dilakukan secara rutin. Sampah dari lapak pedagang dan area pasar dikumpulkan ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang tersedia di kawasan Pasar Induk Kramat Jati.
Namun, persoalan muncul ketika sampah yang telah terkumpul di TPS tidak dapat segera diangkut ke tempat pengolahan akhir akibat keterbatasan armada. Akibatnya, sampah terus menumpuk dari hari ke hari.
Ketergantungan pada Armada DLH DKI Jakarta
Setelah terkumpul di TPS, proses pengangkutan sampah sepenuhnya bergantung pada armada dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta. Sampah tersebut kemudian dibawa ke TPST Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat.
Agus menegaskan bahwa pihak pengelola pasar telah berkoordinasi dengan DLH DKI Jakarta untuk memastikan pengangkutan berjalan lancar. Namun, keterbatasan armada yang dimiliki Sudin Lingkungan Hidup Jakarta Timur membuat pengangkutan tidak bisa dilakukan sesuai kebutuhan ideal.
Kebutuhan Armada Tak Seimbang dengan Realisasi
Secara perhitungan, untuk mengangkut seluruh sampah yang dihasilkan Pasar Induk Kramat Jati setiap hari dibutuhkan minimal 12 hingga 15 armada truk. Dengan jumlah tersebut, sampah dapat terangkut habis tanpa harus mengendap terlalu lama di TPS.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa armada yang tersedia hanya sekitar delapan unit per hari. Selisih inilah yang kemudian menyebabkan penumpukan sampah tidak terhindarkan.
Agus menyebut bahwa ketika kondisi armada tidak ideal, maka potensi penumpukan sampah akan terus terjadi dan berulang.
Dampak Penumpukan Sampah bagi Lingkungan Pasar
Penumpukan sampah di Pasar Induk Kramat Jati tidak hanya menimbulkan bau tidak sedap, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan pedagang dan pengunjung. Lingkungan pasar yang kotor dapat memicu munculnya vektor penyakit seperti lalat dan tikus.
Sebagai pasar induk terbesar di Jakarta dan pusat distribusi bahan pangan, kondisi kebersihan Pasar Induk Kramat Jati menjadi perhatian serius. Sampah yang menumpuk juga berisiko mencemari lingkungan sekitar dan mengganggu aktivitas logistik.
Masalah Berulang, Bukan Kejadian Pertama
Pengelola pasar mengakui bahwa penumpukan sampah bukan kali pertama terjadi. Kejadian serupa pernah dialami sebelumnya ketika armada pengangkut mengalami kendala operasional.
Hal ini menunjukkan bahwa persoalan sampah di Pasar Induk Kramat Jati bersifat struktural, bukan insidental. Selama kapasitas pengangkutan tidak ditingkatkan, risiko penumpukan akan selalu ada.
Harapan Penambahan Armada Pengangkut
Pengelola Pasar Induk Kramat Jati berharap adanya penambahan armada pengangkut dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta. Penambahan armada dinilai sebagai solusi paling krusial untuk mengatasi persoalan sampah secara berkelanjutan.
Selain itu, evaluasi sistem pengangkutan dan jadwal operasional armada juga diperlukan agar proses pengelolaan sampah lebih efektif dan efisien.
Perlu Solusi Jangka Panjang
Pengamat lingkungan menilai bahwa pasar tradisional dengan skala besar membutuhkan sistem pengelolaan sampah khusus. Tidak hanya mengandalkan pengangkutan, tetapi juga perlu adanya pemilahan sampah organik dan anorganik sejak dari sumbernya.
Dengan volume sampah mencapai ratusan ton per hari, pengolahan awal di kawasan pasar dapat mengurangi beban armada pengangkut dan menekan potensi penumpukan.
Kesimpulan
Penumpukan sampah di Pasar Induk Kramat Jati disebabkan oleh ketidakseimbangan antara volume sampah harian yang mencapai 120–150 ton dengan jumlah armada pengangkut yang tersedia. Dengan hanya delapan armada per hari, sampah tidak dapat terangkut secara maksimal dan akhirnya menggunung di TPS.
Penambahan armada pengangkut serta perbaikan sistem pengelolaan sampah menjadi langkah mendesak agar persoalan serupa tidak terus berulang. Sebagai pusat distribusi pangan utama Jakarta, Pasar Induk Kramat Jati membutuhkan pengelolaan lingkungan yang sebanding dengan perannya yang strategis.
Baca Juga : Kapan Nisfu Syaban 2026? Ini Jadwal Lengkapnya
Cek Juga Artikel Dari Platform : dailyinfo

