Dampak Lanjutan Banjir Bandang di Aceh Tamiang
Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh Tamiang tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik berupa rumah hanyut dan infrastruktur rusak, tetapi juga memicu krisis lanjutan yang tak kalah serius, yakni kesulitan akses air bersih. Hingga beberapa hari pascabencana, ribuan warga masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari akibat lumpuhnya jaringan distribusi air.
Krisis air bersih ini menjadi persoalan mendesak karena air merupakan kebutuhan utama untuk minum, memasak, sanitasi, serta pencegahan penyakit. Tanpa pasokan air yang layak, risiko kesehatan terutama bagi anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya meningkat signifikan.
Kecamatan Bandar Pusaka Jadi Wilayah Prioritas
Salah satu wilayah yang paling terdampak adalah Kecamatan Bandar Pusaka. Kawasan ini sempat terisolasi akibat akses jalan yang rusak parah, sementara jaringan PDAM mengalami kerusakan berat sehingga tidak dapat beroperasi. Warga terpaksa mengandalkan air sungai yang tercemar lumpur dan material banjir, kondisi yang sangat berisiko bagi kesehatan.
Melihat situasi darurat tersebut, sejumlah relawan dan organisasi kemanusiaan turun tangan untuk memastikan kebutuhan air bersih warga tetap terpenuhi. Fokus utama diberikan kepada wilayah dengan tingkat kerusakan tertinggi dan akses yang paling terbatas.
Instalasi Pengolahan Air Darurat Dibangun
Sebagai respons cepat atas krisis tersebut, Save The Children Indonesia membangun sebuah instalasi pengolahan air atau water treatment plant di Desa Babo, Kecamatan Bandar Pusaka. Instalasi ini dirancang untuk mengolah air baku dari sungai agar layak digunakan untuk konsumsi dan kebutuhan harian warga.
Water treatment plan tersebut mampu memproduksi hingga 48 ribu liter air bersih setiap hari. Jumlah ini cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 3.200 jiwa, dengan perhitungan standar minimum 15 liter air per orang per hari. Standar tersebut dianggap sebagai batas aman untuk menjaga kesehatan dasar masyarakat dalam situasi darurat.
Air Bersih untuk Pendidikan dan Layanan Kesehatan
Selain untuk kebutuhan rumah tangga, air bersih hasil pengolahan juga dimanfaatkan untuk membersihkan dan mengaktifkan kembali fasilitas pendidikan serta layanan kesehatan yang terdampak bencana. Sekolah dan fasilitas kesehatan merupakan sektor vital dalam proses pemulihan, karena keduanya berperan penting dalam menjaga keberlanjutan kehidupan sosial dan kesehatan masyarakat.
Tanpa ketersediaan air bersih, proses belajar mengajar dan pelayanan medis sulit dilakukan secara optimal. Oleh karena itu, distribusi air bersih juga diarahkan untuk mendukung pemulihan fasilitas-fasilitas tersebut agar dapat kembali berfungsi secepat mungkin.
Risiko Kesehatan Akibat Kekurangan Air Bersih
CEO Save The Children Indonesia, Dessy Kuriany Ukar, menegaskan bahwa krisis air bersih dapat berdampak serius terhadap kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak. Kekurangan air bersih berpotensi meningkatkan kasus penyakit berbasis air seperti diare, infeksi kulit, dan penyakit saluran pencernaan lainnya.
“Kami mengolah air baku dari sumber seperti sungai agar aman dikonsumsi untuk anak dan keluarga. Kekurangan air bersih akan meningkatkan risiko kesehatan anak-anak dan menghambat pemulihan fasilitas pendidikan serta kesehatan,” ujar Dessy Kuriany Ukar.
Pernyataan ini menegaskan bahwa penanganan air bersih bukan sekadar pemenuhan kebutuhan logistik, tetapi juga bagian dari strategi perlindungan anak dan pemulihan jangka menengah pascabencana.
Tantangan Distribusi di Wilayah Pascabencana
Meski instalasi pengolahan air telah beroperasi, tantangan distribusi masih menjadi pekerjaan besar. Kondisi jalan yang rusak, jembatan terputus, serta medan yang sulit membuat distribusi air ke beberapa titik pengungsian membutuhkan koordinasi ekstra dan tenaga tambahan.
Relawan harus memastikan bahwa air bersih dapat diakses secara merata, terutama oleh keluarga yang tinggal jauh dari titik instalasi. Dalam kondisi darurat, ketimpangan distribusi dapat memicu masalah sosial baru dan meningkatkan kerentanan kelompok tertentu.
Kolaborasi Kemanusiaan Jadi Kunci
Upaya pemenuhan air bersih di Aceh Tamiang menunjukkan pentingnya kolaborasi antara organisasi kemanusiaan, pemerintah daerah, dan masyarakat setempat. Peran relawan lokal sangat krusial dalam membantu operasional instalasi, distribusi air, serta edukasi kepada warga mengenai penggunaan air bersih dan sanitasi yang aman.
Kolaborasi ini juga menjadi contoh bagaimana respons cepat dan terkoordinasi dapat mencegah krisis kesehatan yang lebih besar pascabencana alam. Tanpa intervensi dini, dampak bencana bisa meluas dan berkepanjangan.
Harapan Pemulihan Jangka Panjang
Meski water treatment plan mampu menjawab kebutuhan darurat, pemulihan jangka panjang tetap memerlukan perbaikan permanen infrastruktur air bersih. Pemerintah daerah diharapkan segera memulihkan jaringan PDAM dan sistem distribusi air agar masyarakat tidak terus bergantung pada instalasi darurat.
Bagi warga Aceh Tamiang, ketersediaan air bersih menjadi simbol awal kebangkitan pascabencana. Air bukan hanya kebutuhan fisik, tetapi juga penentu keberlanjutan pendidikan, kesehatan, dan kehidupan sosial masyarakat. Dengan dukungan berkelanjutan dan pemulihan infrastruktur yang tepat, diharapkan Aceh Tamiang dapat bangkit dan kembali menjalani kehidupan normal secara bertahap.
Baca Juga : Insiden Mortir di Perbatasan Thailand–Kamboja, Gencatan Senjata Diuji
Cek Juga Artikel Dari Platform : footballinfo

