dailyinfo – Politikus senior Sahroni kembali terpilih memimpin Komisi III DPR RI, yang membidangi bidang hukum, HAM, dan keamanan. Terpilihnya Sahroni menarik perhatian publik, terutama karena kilas balik terhadap pernyataannya yang viral beberapa tahun lalu, di mana ia sempat menyebut kata “tolol” dalam konteks perdebatan legislatif yang kontroversial.
1. Terpilihnya Kembali Sahroni
Sidang pemilihan pimpinan Komisi III baru-baru ini menyatakan Sahroni terpilih secara aklamasi untuk periode kepemimpinan baru. Legislator dari partai Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini dianggap memiliki pengalaman panjang dalam mengawal isu hukum dan keamanan di DPR. Pemilihan ini juga menunjukkan konsistensi dukungan dari fraksi-fraksi anggota komisi.
2. Kilas Balik Pernyataan Viral “Tolol”
Sahroni sebelumnya sempat menjadi sorotan media sosial ketika pernyataannya dalam rapat terbuka viral. Kata “tolol” yang dilontarkan kepada salah satu pihak memicu perdebatan panas di publik, dengan beberapa pihak mengecam, sementara yang lain menilai itu spontanitas politik. Kejadian tersebut hingga kini masih menjadi referensi ketika membahas gaya komunikasi Sahroni di DPR.
3. Fokus Program Kepemimpinan Baru
Dalam sambutannya setelah terpilih, Sahroni menekankan fokus pada penguatan pengawasan hukum, pemberantasan korupsi, dan perlindungan HAM. Ia juga menyebut akan mendorong revisi regulasi yang dianggap kurang relevan, serta meningkatkan sinergi dengan aparat keamanan dan penegak hukum untuk menindaklanjuti aspirasi masyarakat.
4. Reaksi Publik dan Media
Kembalinya Sahroni memimpin Komisi III mendapat reaksi beragam. Sebagian publik menyoroti rekam jejak dan pengalaman politiknya, sementara sebagian lainnya mengingat kembali momen viral “tolol” sebagai bagian dari citra kontroversialnya. Media lokal pun menyoroti pentingnya komunikasi politik yang efektif namun tetap menghormati etika legislatif.
5. Tantangan Kepemimpinan
Sebagai pimpinan Komisi III, Sahroni menghadapi tantangan besar, termasuk penegakan hukum yang transparan, reformasi birokrasi, dan pengawasan terhadap aparat penegak hukum. Kepemimpinan ini akan diuji dari kemampuan menyatukan berbagai fraksi dan menavigasi isu-isu sensitif tanpa menimbulkan kontroversi baru yang merugikan citra komisi.
Kembalinya Sahroni ke pucuk pimpinan Komisi III menunjukkan kombinasi antara pengalaman politik dan kemampuan manajerial. Meski momen pernyataan viral “tolol” masih dikenang publik, tantangan besar menanti dalam mewujudkan reformasi hukum dan pengawasan yang lebih efektif di DPR.

