Banjir yang melanda Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, tidak hanya berdampak pada permukiman warga, tetapi juga memukul sektor pertanian secara serius. Hingga pertengahan Januari, tercatat sebanyak 2.172 hektare sawah di 13 kecamatan terendam air akibat hujan deras yang terjadi secara terus-menerus. Kondisi ini menjadi ancaman nyata bagi ribuan petani, terutama karena sebagian besar tanaman padi yang terdampak masih berusia muda dan baru memasuki Masa Tanam (MT) ke-1.
Banjir di area persawahan terjadi seiring meningkatnya intensitas hujan disertai angin kencang yang melanda Jepara dalam beberapa hari terakhir. Debit air yang terus bertambah membuat genangan sulit surut, bahkan meluas ke wilayah pertanian yang sebelumnya masih aman. Situasi ini memunculkan kekhawatiran akan potensi gagal panen dan kerugian ekonomi yang besar bagi petani.
Ribuan Hektare Sawah Terendam di 13 Kecamatan
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Jepara, Mundhofir, menjelaskan bahwa data lahan pertanian terdampak banjir masih bersifat dinamis dan berpotensi bertambah. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi cuaca ekstrem yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
“Data per hari Senin pukul 13.25 tercatat ada 2.172 hektare lahan pertanian di 13 kecamatan yang terendam banjir,” ujar Mundhofir.
Ia merinci, wilayah dengan dampak terluas berada di Kecamatan Kalinyamatan dengan 597 hektare sawah terendam. Disusul Kecamatan Donorojo seluas 297 hektare, Welahan 268 hektare, Mayong 232 hektare, Kedung 239 hektare, dan Keling 158 hektare. Selain itu, genangan juga terjadi di Pecangaan (108 hektare), Nalumsari (92 hektare), Mlonggo (65 hektare), Bangsri (60 hektare), Kembang (30 hektare), Jepara (25 hektare), serta Batealit (1 hektare).
Sementara itu, beberapa kecamatan seperti Karimunjawa dan Pakis Aji hingga kini belum melaporkan adanya lahan pertanian yang terdampak banjir.
Tanaman Padi Masih Muda, Risiko Gagal Panen Tinggi
Yang membuat situasi ini semakin mengkhawatirkan adalah usia tanaman padi yang masih relatif muda. Mayoritas sawah yang terendam banjir baru memasuki fase awal pertumbuhan, sekitar satu bulan setelah tanam. Pada fase ini, tanaman padi sangat rentan terhadap genangan air yang berlangsung lama.
Jika air tidak segera surut, akar tanaman dapat membusuk dan batang padi berisiko mati. Akibatnya, petani terancam harus melakukan tanam ulang, yang berarti tambahan biaya produksi dan mundurnya jadwal panen. Kondisi tersebut tentu berdampak langsung pada pendapatan petani dan ketersediaan beras di tingkat lokal.
Cuaca Ekstrem Jadi Faktor Utama
Menurut DKPP Jepara, banjir yang merendam ribuan hektare sawah ini dipicu oleh kombinasi curah hujan tinggi dan buruknya sistem aliran air di sejumlah wilayah. Beberapa daerah persawahan berada di dataran rendah dan dekat aliran sungai, sehingga sangat mudah tergenang ketika debit air meningkat.
Selain itu, hujan deras yang turun hampir setiap hari membuat air hujan tidak sempat terserap tanah secara optimal. Angin kencang yang menyertai hujan juga memperparah kondisi, karena mempercepat limpasan air ke area persawahan.
Dampak Ekonomi Bagi Petani
Banjir di lahan pertanian bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga berdampak besar pada ekonomi petani. Biaya tanam yang sudah dikeluarkan—mulai dari pengolahan lahan, pembelian benih, pupuk, hingga tenaga kerja—berpotensi hilang jika tanaman gagal panen.
Bagi petani kecil, kondisi ini bisa menjadi pukulan berat karena modal tanam sering kali berasal dari pinjaman atau tabungan terbatas. Jika harus menanam ulang, beban biaya akan semakin besar, sementara pendapatan tertunda.
Langkah Antisipasi dan Pendataan Kerugian
Pemerintah Kabupaten Jepara melalui DKPP terus melakukan pendataan untuk mengetahui tingkat kerusakan tanaman secara detail. Data ini nantinya akan menjadi dasar untuk menentukan langkah lanjutan, termasuk kemungkinan pengajuan bantuan atau program pemulihan bagi petani terdampak.
Mundhofir menyebutkan bahwa pihaknya juga berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan instansi terkait untuk memantau perkembangan cuaca dan kondisi lapangan.
“Data masih bisa berubah, karena hujan dengan intensitas tinggi masih terjadi. Kami terus memantau dan melakukan pendataan ulang,” jelasnya.
Ancaman Terhadap Ketahanan Pangan Lokal
Banjir yang merendam ribuan hektare sawah juga menimbulkan kekhawatiran terhadap ketahanan pangan di tingkat daerah. Jepara merupakan salah satu wilayah penghasil padi di Jawa Tengah. Jika kerusakan tanaman cukup luas dan panen terganggu, pasokan beras lokal berpotensi menurun.
Meski dampak jangka panjangnya masih perlu dikaji, kondisi ini menjadi peringatan penting tentang kerentanan sektor pertanian terhadap perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.
Harapan Petani: Air Segera Surut
Di tengah situasi sulit ini, para petani berharap hujan segera berhenti dan air banjir cepat surut agar tanaman padi masih bisa diselamatkan. Beberapa petani masih optimistis bahwa jika genangan tidak berlangsung terlalu lama, tanaman dapat pulih meski pertumbuhannya terhambat.
Namun, jika banjir berlanjut, pilihan tanam ulang hampir tak terelakkan. Karena itu, dukungan pemerintah dalam bentuk bantuan benih, pupuk, atau subsidi biaya tanam sangat diharapkan untuk meringankan beban petani.
Penutup
Banjir yang merendam 2.172 hektare sawah di Kabupaten Jepara menjadi gambaran nyata betapa rentannya sektor pertanian terhadap cuaca ekstrem. Dengan mayoritas tanaman padi masih berusia muda, risiko gagal panen dan kerugian ekonomi bagi petani sangat besar.
Pemerintah daerah kini berpacu dengan waktu untuk melakukan pendataan, mitigasi, dan menyiapkan langkah pemulihan. Ke depan, perbaikan sistem drainase, pengelolaan air, serta adaptasi terhadap perubahan iklim menjadi kunci agar kejadian serupa tidak terus berulang dan mengancam ketahanan pangan daerah.
Baca Juga : Tiang Monorel Mangkrak Rasuna Said Mulai Dibongkar
Cek Juga Artikel Dari Platform : cctvjalanan

