Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi memulai pembongkaran tiang monorel mangkrak di sepanjang Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Langkah ini menjadi penanda berakhirnya salah satu proyek transportasi massal paling kontroversial dan terbengkalai dalam sejarah pembangunan Ibu Kota. Pembongkaran dimulai pada Rabu, 14 Januari, setelah melalui proses koordinasi hukum dan administratif yang panjang.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan bahwa keputusan pembongkaran diambil secara hati-hati. Pemerintah daerah terlebih dahulu berkoordinasi dengan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta dan Komisi Pemberantasan Korupsi untuk memastikan langkah tersebut aman secara hukum dan tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.
“Proses untuk melakukan ini panjang. Secara khusus, saya berterima kasih kepada Kejati DKI dan KPK yang telah memberikan dukungan sepenuhnya untuk melakukan penataan Jalan Rasuna Said ini,” ujar Pramono Anung.
Akhir dari Proyek Monorel yang Terbengkalai
Tiang-tiang monorel yang berdiri di median Jalan HR Rasuna Said selama bertahun-tahun menjadi simbol proyek infrastruktur yang gagal terealisasi. Proyek monorel Jakarta sempat digadang-gadang sebagai solusi transportasi massal modern, namun berhenti di tengah jalan akibat persoalan pendanaan, hukum, dan perubahan kebijakan.
Akibat mangkrak dalam waktu lama, tiang-tiang tersebut justru menimbulkan dampak visual yang kurang sedap dipandang, mempersempit ruang jalan, serta memicu kekhawatiran soal keselamatan dan efektivitas tata kota. Karena itu, pembongkaran dinilai sebagai langkah realistis untuk memulihkan fungsi koridor Rasuna Said sebagai salah satu jalur utama bisnis dan perkantoran di Jakarta.
Anggaran Pembongkaran Relatif Kecil
Menurut Pramono, anggaran yang dibutuhkan untuk membongkar seluruh tiang monorel tersebut diperkirakan sekitar Rp254 juta. Nilai ini dinilai relatif kecil jika dibandingkan dengan manfaat jangka panjang yang akan diperoleh dari penataan ulang kawasan.
“Ada 109 tiang monorel sampai dengan ujung Jalan Rasuna Said. Semuanya akan ditata rapi,” ungkapnya.
Pembongkaran dilakukan secara bertahap menggunakan alat berat, dengan mempertimbangkan aspek keselamatan dan kelancaran lalu lintas. Pemerintah menegaskan tidak akan ada penutupan jalan secara penuh selama proses berlangsung.
Rekayasa Lalu Lintas Selama Proses Pembongkaran
Untuk meminimalkan gangguan aktivitas warga, Dinas Perhubungan dan Dinas Bina Marga DKI Jakarta telah menyiapkan skema rekayasa lalu lintas. Kendaraan dari jalur lambat akan dialihkan sementara ke jalur cepat di titik-titik tertentu saat alat berat bekerja.
Pramono menekankan pentingnya pengaturan lalu lintas yang ketat karena Jalan HR Rasuna Said merupakan salah satu koridor utama Jakarta. Jalur ini menghubungkan kawasan bisnis Kuningan dengan pusat-pusat aktivitas ekonomi lainnya.
“Saya sudah minta agar pengaturan lalu lintas tetap dijaga supaya tidak macet, karena ini jalur utama kita,” tuturnya.
Penataan Kawasan dengan Konsep Complete Street
Pembongkaran tiang monorel bukan sekadar menghilangkan struktur lama, tetapi menjadi bagian dari rencana besar penataan kawasan Rasuna Said. Pemprov DKI Jakarta menyiapkan anggaran sekitar Rp102 miliar untuk penataan lanjutan, yang mencakup pembangunan taman kota, pedestrian yang lebih nyaman, saluran air, serta peningkatan kualitas ruang publik.
Penataan ini akan mengusung konsep complete street, yaitu pendekatan tata jalan yang ramah bagi semua pengguna. Konsep tersebut mencakup pejalan kaki, pesepeda, pengguna transportasi publik, serta kendaraan pribadi, dengan porsi ruang yang lebih adil dan manusiawi.
Dalam implementasinya, trotoar akan diperlebar dan diperbaiki, jalur sepeda diperjelas, serta ruang hijau ditambah untuk meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan.
Harapan Kurangi Kemacetan dan Tingkatkan Kualitas Kota
Pemprov DKI berharap penataan ulang Jalan HR Rasuna Said dapat memberikan dampak positif terhadap kelancaran lalu lintas. Selama ini, keberadaan tiang monorel dinilai mengganggu pandangan dan fleksibilitas pengaturan jalan.
Dengan dihilangkannya tiang-tiang tersebut, ruang jalan menjadi lebih lapang dan memungkinkan pengelolaan lalu lintas yang lebih optimal. Selain itu, kehadiran taman dan pedestrian yang lebih baik diharapkan dapat mendorong mobilitas non-motorized serta mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.
Simbol Perubahan Pendekatan Pembangunan
Pembongkaran tiang monorel mangkrak juga memiliki makna simbolik bagi Jakarta. Langkah ini mencerminkan perubahan pendekatan pembangunan kota, dari proyek besar yang tidak berkelanjutan menuju penataan ruang yang lebih realistis, terintegrasi, dan berorientasi pada kebutuhan warga.
Pramono menegaskan bahwa Jakarta ke depan harus lebih selektif dalam merencanakan proyek infrastruktur, dengan memastikan aspek pembiayaan, hukum, dan manfaat publik benar-benar matang sejak awal.
Penutup
Dimulainya pembongkaran tiang monorel mangkrak di Rasuna Said menandai babak baru penataan salah satu koridor penting Jakarta. Dengan dukungan aparat penegak hukum, pengaturan lalu lintas yang terencana, serta konsep complete street, Pemprov DKI optimistis kawasan ini akan berubah menjadi ruang kota yang lebih tertata, nyaman, dan fungsional.
Jika berjalan sesuai rencana, penataan Rasuna Said tidak hanya menghapus jejak proyek mangkrak, tetapi juga menghadirkan wajah baru Jakarta yang lebih ramah bagi warganya dan selaras dengan visi pembangunan perkotaan berkelanjutan.
Baca Juga : Komisi II DPR Targetkan Revisi UU Pemilu Rampung 2026
Cek Juga Artikel Dari Platform : hotviralnews

