Galaxy Z TriFold Ludes, Tapi Tak Dijual Massal
Meski menjadi salah satu smartphone paling dibicarakan sepanjang 2025, Samsung Electronics justru tidak menjadikan Galaxy Z TriFold sebagai produk mass market. Perangkat ini memang langsung ludes setiap kali dijual, namun Samsung secara sadar membatasi pasokannya sejak awal.
Berdasarkan laporan media Korea The Herald, Galaxy Z TriFold resmi diluncurkan di Korea Selatan pada 12 Desember 2025. Sejak penjualan perdana, unitnya habis hanya dalam hitungan menit, meski dibanderol sebagai smartphone termahal Samsung sepanjang sejarah dengan harga KRW 3.590.400 atau sekitar USD 2.466.
Namun, kelangkaan tersebut bukan disebabkan oleh permintaan semata, melainkan bagian dari strategi yang sudah dirancang sejak awal.
Pasokan Sangat Kecil Dibanding Foldable Lain
Di balik tingginya antusiasme pasar, pasokan Galaxy Z TriFold tergolong sangat terbatas. Estimasi industri di Korea menyebutkan penjualan domestik baru mencapai sekitar 3.000–4.000 unit. Secara global, total pengiriman diperkirakan hanya berkisar 20.000 hingga 30.000 unit.
Angka ini sangat kontras jika dibandingkan dengan lini foldable utama Samsung. Sebagai perbandingan, Galaxy Z Fold7 dan Galaxy Z Flip7 yang dirilis Juli 2025 mencatat lebih dari 1,04 juta unit pre-order secara global.
Perbedaan skala ini menegaskan bahwa Galaxy Z TriFold tidak pernah diposisikan sebagai produk penjualan volume besar.
Bukan Produk Komersial, Tapi Etalase Teknologi
Sumber industri menyebut Galaxy Z TriFold lebih tepat disebut sebagai produk edisi khusus. Tujuan utamanya adalah menunjukkan kepemimpinan teknologi Samsung di segmen layar lipat, bukan mengejar dominasi pasar secara kuantitas.
Hal ini juga tercermin dari strategi pemasaran. Tidak seperti peluncuran flagship lain, Samsung tidak membagikan unit Galaxy Z TriFold kepada media maupun kreator konten untuk keperluan review. Langkah ini terbilang tidak lazim, namun memperkuat kesan bahwa perangkat tersebut bersifat eksperimental dan selektif.
Tantangan Teknis Smartphone Tri-Fold
Dari sisi rekayasa, smartphone tri-fold menghadirkan tantangan produksi yang jauh lebih kompleks dibanding foldable konvensional. Galaxy Z TriFold menggunakan dua engsel, beberapa panel OLED kelas atas, serta toleransi perakitan yang jauh lebih ketat.
Setiap tambahan engsel berarti peningkatan risiko kegagalan mekanis, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Produksi dalam skala besar dinilai berpotensi meningkatkan cacat produksi, sekaligus memperbesar biaya kontrol kualitas.
Karena itu, Samsung memilih pendekatan konservatif: produksi kecil, pengujian pasar terbatas, dan evaluasi jangka panjang sebelum mempertimbangkan ekspansi skala.
Faktor Biaya dan Margin Tipis
Alasan lain di balik produksi terbatas adalah soal profitabilitas. Biaya produksi Galaxy Z TriFold dilaporkan sangat tinggi, dipengaruhi oleh kenaikan harga memori semikonduktor serta penggunaan panel OLED kustom yang lebih mahal dari foldable biasa.
Sejumlah analis sebelumnya memperkirakan harga perangkat ini bisa melampaui KRW 4 juta (sekitar Rp46 jutaan). Namun Samsung justru menetapkan harga di bawah ekspektasi tersebut.
Pada acara peluncuran, Lim Sung-taek, Vice President dan Head of Samsung Electronics Korea, menyebut harga tersebut sebagai “angka yang dicapai setelah pemangkasan biaya berulang kali.” Bahkan, sumber industri menyebut Samsung kemungkinan hanya meraih margin sangat tipis—atau berpotensi merugi—pada setiap unit yang terjual.
Strategi Samsung Berbeda dengan Huawei
Pendekatan Samsung ini berbeda dengan Huawei, yang meluncurkan Mate XT generasi pertama di China pada akhir 2024. Huawei mematok harga awal 19.999 yuan (sekitar USD 2.845), bahkan dijual hingga USD 3.660 di beberapa pasar luar negeri.
Data IDC mencatat Huawei berhasil menjual sekitar 470.000 unit Mate XT hingga akhir kuartal kedua 2025—angka yang jauh lebih besar dibanding Galaxy Z TriFold.
Perbedaan ini mencerminkan filosofi yang berbeda: Huawei berani mendorong adopsi lebih luas, sementara Samsung memilih jalur kehati-hatian.
Desain Lipat ke Dalam Demi Keandalan
Dari sisi desain, Galaxy Z TriFold mengusung mekanisme lipat ke dalam ganda, yang sepenuhnya melindungi layar utama 10 inci saat perangkat ditutup. Pendekatan ini berbeda dari desain lipat keluar Huawei yang membiarkan sebagian layar tetap terekspos.
Meski membuat bodi Samsung sedikit lebih tebal dan berat, banyak analis menilai desain tersebut menawarkan tingkat keandalan yang lebih tinggi dalam penggunaan jangka panjang. Bagi Samsung, keandalan tampaknya lebih diprioritaskan ketimbang mengejar desain paling tipis atau ringan.
Kesimpulan: Uji Coba Sebelum Era Tri-Fold Massal
Produksi terbatas Galaxy Z TriFold bukan tanda kegagalan, melainkan strategi yang disengaja. Samsung memosisikan perangkat ini sebagai bukti konsep komersial, sekaligus uji coba nyata sebelum teknologi tri-fold benar-benar matang untuk pasar massal.
Jika hasil evaluasi jangka panjang menunjukkan keandalan tinggi dan biaya produksi dapat ditekan, bukan tidak mungkin generasi tri-fold berikutnya akan hadir dengan skala yang jauh lebih besar. Untuk saat ini, Galaxy Z TriFold berperan sebagai simbol: bahwa Samsung sudah sampai di titik tersebut—namun belum terburu-buru melangkah lebih jauh.
Baca Juga : YouTube Dibanjiri Konten AI Slop, Apa Itu dan Dampaknya?
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : iklanjualbeli

